"Orang yang berpegangan kepada sunnahku pada saat umatku dilanda kerusakan maka pahalanya seperti seorang syahid".(HR. Ath-Thabrani)
Minggu, 16 Oktober 2011
SKALA BUMI DAN TATA SURYA
AKAL ADA DI HATI
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا
“Tidakkah mereka berjalan di atas muka bumi lalu mereka memiliki qalbu yang memahami ayat Allah dengannya.” [Q.S. Al-Hajj:46]. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Karena, yang buta bukanlah mata, tapi yang buta adalah qalbu-qalbu yang ada di dalam dada.” [Q.S. Al-Hajj:46]. Maha Suci Allah, seakan-akan ayat ini turun menurut keadaan manusia saat ini, bahkan juga keadaan manusia dahulu: apakah akal ada di dalam otak atau di qalbu. Masalah ini adalah masalah yang banyak membuat kesulitan para pemikir yang mendasarkan analoginya ini pada sesuatu yang inderawi. Mereka tidak mengembalikan pemecahan masalah ini pada firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya, hal ini telah jelas, bahwasanya akal itu ada di qalbu (jantung) dan qalbu letaknya ada di dalam dada.أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا
“Tidakkah mereka berjalan di atas muka bumi lalu mereka memiliki qalbu yang memahami ayat Allah dengannya.” [Q.S. Al-Hajj:46]. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Karena, yang buta bukanlah mata, tapi yang buta adalah qalbu-qalbu yang ada di dalam dada.” [Q.S. Al-Hajj:46]. Allah tidak berfirman, “Qalbu yang berada di dalam otak. Masalah ini jelas sekali bahwasanya akal berada di dalam qalbu (jantung). Yang lebih menguatkan ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Dan sesungguhnya di dalam jasad ini ada sekerat daging. Jika daging ini baik, maka baiklah seluruh jasad, jika daging ini rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, daging ini adalah qalbu.” Lalu, kenapa engkau menolak sesuatu yang dipersaksikan oleh Kitab Allah, padahal Allah adalah Maha Pencipta dan Maha Mengetahui segala sesuatu, dan dipersaksikan pula oleh sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Yang wajib untuk kita lakukan dalam hal ini adalah kita buang seluruh pendapat yang menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kita jadikan hal itu di bawah kaki kita, tidak kita pedulikan. Karena, . Jika otak telah memproyeksikan suatu gambaran dan mempersiapkannya, dia kirimkan ke qalbu, lalu qalbu yang memerintahkan atau melarang. Seakan-akan, otak merupakan sekertaris, mempersiapkan segala sesuatu lalu memberikannya kepada qalbu, kemudian dia memerintahkan atau melarang. Dan hal ini, bukan merupakan hal yang aneh.وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan di dalam dirimu (terdapat tanda kekuasaan Allah), tidakkah kalian melihat?” [Q.S. Adz-Dzariyat:21]. Di dalam jasad kita ini terdapat perkara-perkara aneh yang membuat bingung akal kita ini. Dan, hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Jika baik daging terssebut, baik pulalah jasad.” Jika bukan karena hak memerintah itu milik qalbu, tidak akan, “Jika daging itu baik, baik pulalah jasad, jika daging itu jelek, jelek pulalah jasad seluruhnya.” Jadi, qalbu merupakan tempatnya akal dan pengatur bagi seseorang. Namun, tidak diragukan bahwa dia memiliki hubungan dengan otak. Karena itu, jika otak rusak, pikiran dan akal juga rusak. Dia memiliki kaitan dengan hal itu, tapi akal yang mengatur ada di dalam qalbu, dan qalbu ada di dalam dada.وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“…tapi yang buta adalah qalbu-qalbu yang ada di dalam dada.” [Q.S. Al-Hajj:46]. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber Syarh Riyadhus Shalihin, jilid 1, Bab Muraqabah. Diterjemahkan dari http://www.sahab.net/home/?p=209 oleh Abu Yusuf Abdurrahman.ADA APA DENGAN PUTRIKU?
GADIS KECIL ITU…
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di
dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa.
Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang
sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada
ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku
bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya
aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan
tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi
tersebut.
Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar
seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang
shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga
mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia
masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan
celana panjang di balik rok tersebut.
Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka
Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari
segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke
tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang
gadis yang perpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya,
menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP
mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat
sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada
yang ma’ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.
Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya
pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:
Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan
seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah
seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu
tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata:
“Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci
piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita
kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24
jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”
Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap
pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu
tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: “Mama,
aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus
mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam.” Maka akupun
sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam
pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia
tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui
permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan
sangat mencintai pamannya tersebut.
Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah
gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang
sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan
kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini?
Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?
Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa
kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia
menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: “Sakit ringan di
kakiku.” Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya
kepadanya, dia menjawab: “Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah.”
Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah
sakit.
Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam
salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan
Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu
seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara
Afnan berbaring di atas ranjang.
Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di
kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan
merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar
ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar
tersebut dia sangat bergembira dan berkata: “Alhamdulillah…
alhamdulillah… alhamdulillah.” Akupun mendekatkan dia di dadaku
sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: “Wahai ummi,
alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku.”
Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua
orang melihat kepadanya dengan tercengang!!
Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini
dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang
yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan
imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan
keislamannya!!
Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada
Allah.
Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya
meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum
rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk
memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia
menolak dan bersikukuh seraya berkata: “Aku tidak ingin terhalangi dari
pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku.”
Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya ke
Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut
oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di
Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan
melihatnya, dia bertanya kepadanya: “Apakah engkau seorang muslimah?”
Dia menjawab: “Tidak.”
Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke
sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu
ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara
kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa
sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun
mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang
mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.
Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali
mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar
sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama
sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah
perasaan kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui
Messenger. Afnan bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut pendapatmu,
apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” Maka dia
mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk
memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu
kalimat: “Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah
mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan
sempurna.” Temanku tersebut berkata: “Sesungguhnya setelah jawaban
Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun,
seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan
hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti
dia akan mati.”
Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan
tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!
Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di
atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan
menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan
jarum infus.
Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti
orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun
dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu` dan shalat, tanpa
ada seorangpun yang membangunkannya!!
Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak
ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan
meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku
ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.
Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan
berbicara dengannya.
Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa
dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar,
dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir
terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia
tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi
kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku
tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah
Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku
kemudian tersenyum. Dia berkata: “Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan
sebuah mimpi yang telah kulihat.” Kukatakan: “(Mimpi) yang baik Insya
Allah.” Dia berkata: “Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari
pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan
keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia
dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi.”
Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat
itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia
berkata: “Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka diapun
menciumku. Kemudian dia berkata: “Aku ingin mencium pipimu yang kedua.”
Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring
di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: “Afnan, ucapkanlah la
ilaaha illallah.”
Maka dia berkata: “Asyhadu alla ilaaha illallah.”
Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: “Asyhadu
allaa ilaaha illallaah.” Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian
dia berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan
rasuulullaah.” Dan keluarlah rohnya.
Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma
minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku
takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki
kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium
aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi
rabbil ‘aalamin. (AR)*
Oleh: Ummu Mariah Iman Zuhair
10 ALASAN MENGAPA WANITA ENGGAN BERJILBAB (FULL PICS!)
Untuk menjawab pertanyaan yang kami lontarkan kepada beberapa
kelompok remaja putri ini ternyata hasilnya ada sepuluh alasan pokok,
yang kalau kita cermati ternyata kesepuluh alasan itu sangat rapuh dan
lemah.
Berikut ini kesepuluh alasan mereka beserta tanggapannya.
Maka kita ajukan dua pertanyaan:
Pertama: Apakah mereka secara mendasar telah yakin dengan
keberadaan Islam? Jawabannya pasti “Ya”, karena ia mengucapkan لا إله
إلا الله. Ini berarti mereka telah yakin dengan aqidah Islam. Dan mereka
juga telah mengucapkan محمد رسول الله, ini berarti mereka telah yakin
dengan syariat Islam. Jadi mereka telah menerima syariat Islam sebagai
aqidah, syariat dan jalan hidup.
Kedua: Apakah hijab termasuk bagian dari syariat Islam dan
kewajibannya?
Seandainya mereka ikhlas dan mencari kebenaran dalam masalah ini
tentu mereka akan mengatakan “Ya”, karena Allah yang kita imani sebagai
satu-satunya sesembahan yang benar telah memerintahkan hijab didalam
kitab suci-Nya, dan Rasul saw yang kita imani sebagai utusan Allah telah
memerintahkan hijab didalam sunnahnya.
Alasan ini telah dijawab oleh makhluk Allah yang paling mulia yaitu
Rasulullah saw dalam ungkapannya yang sangat singkat dan bijak:
« لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ »
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal mendurhakai sang
pencipta.”
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak.” (al-Nisa`:
36)
Jadi taat kepada kedua orangtua tidak dibatasi oleh apapun kecuali
satu hal yaitu jika keduanya memerintahkan untuk bermaksiat kepada
Allah. Allah swt berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلىَ أَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ
لَكَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti kedunya.” (Luqman: 15)
Dan ketidak taatan kepada keduanya dalam hal maksiat tidak menjadi
penghalang bagi anak untuk berbuat baik kepada keduanya. Allah swt
berfirman:
وَصَاحِبْهُمَا فِيْ الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا
“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)
Kepada orang-orang seperti ini Allah I mengatakan:
قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا
يَفْقَهُوْنَ
“Katakanlah: “Api nereka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)
jikalau mereka mengetahui.” (At-Taubah: 81)
Bagaimana bila engkau bayangkan antara panasnya negerimu dengan
panasnya api jahannam?
Ketahuilah bawa setan telah membelitmu dengan salah satu tipu
dayanya yang rapuh agar kamu terbebas dari panasnya dunia menuju
panasnya neraka. Selamatkanlah dirimu dari jerat-jerat setan, jadikanlah
teriknya matahari sebagai nikmat bukan sebagai siksa, karena ia
mengingatkanmu kepada dahsyatnya adzab Allah pada hari dimana panasnya
melebihi penasnya dunia dengan berlipat-lipat ganda.
Kepadanya kita katakan: “Seandainya semua manusia berfikir dengan
logika seperti ini tentu mereka meninggalkan agama ini secara total,
tentu mereka telah meninggalkan shalat, karena sebagian mereka khawatir
meninggalkannya. Tentu mereka juga tidak mau berpuasa karena banyak dari
mereka khawatir jika suatu saat akan meninggalkannya … dst. Tidakkah
kamu perhatikan bagaimana sekali lagi setan menjeratmu dengan
jaring-jaringnya yang rapuh agar kamu meninggalkan cahaya hidayah?
Rasulullah saw bersabda: “Amal yang paling dicintai oleh Allah
adalah yang paling langgeng meskipun sedikit.” Mengapa engkau tidak
mencari faktor-faktor yang membuat mereka itu menanggalkan hijabnya,
supaya engkau dapat mengatasi dan menanggulanginya?”
Sesungguhya didalam Islam itu hanya ada dua hizib (kelompok) tidak
ada yang lain. Keduanya disebutkan oleh Allah didalam kitab sucinya.
Hizib pertama disebut dengan hizbullah. Yaitu orang yang ditolong oleh
Allah kerena ia mentaati perintah-perintah-Nya dan manjauhi
larangan-larangan-Nya. Kelompok kedua disebut hizbusysyaithon yaitu
orang yang mendurhakai Allah, mentaati setan dan banyak berbuat
kerusakan dimuka bumi. Ketika engkau mematuhi perintah Allah yang
diantaranya adalah hijab maka engkau tergabung dalam hizbullah yang
beruntung. Dan ketika engkau bertabarruj menampakkan kecantikanmu maka
engkau suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar telah naik diatas
perahu setan bersama rombongan mereka dari kelompok munafiqin dan
kuffar. Sungguh mereka adalah seburuk-buruk teman.
Ukhti, sesungguhnya suami yang menginginkanmu keluar rumah dengan
membuka aurat, dan bermaksiat kepada Allah adalah suami yang tidak layak
untukmu, suami yang tidak cemburu atas kehormatan Allah, tidak cemburu
atas dirimu, dan tidak menolongmu untuk dapat memasuki surga dan selamat
dari neraka.
Sesungguhnya rumah tangga yang dibangun diatas dasar maksiat kepada
Allah dan diatas kemurkaan-Nya adalah pantas bagi Allah untuk
menulisnya sebagai keluarga yang sengsara di dunia dan akhirat.
Sebagaimana firman Allah swt:
وَمَنْ أعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً
ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yag sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari
kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)
Setelah itu, sesungguhnya pernikahan itu adalah nikmat dari Allah
yang dianugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, betapa banyak
wanita berhijab yang menikah, betapa banyak wanita yang safirah (sering
keluar rumah) mutabarrijah (membuka aurat, kecantikannya) tidak menikah.
Apabila kamu mengatakan, bahwa sufurku dan tabarrujku adalah sarana
bagi tujuan yang suci yaitu pernikahan, maka tujuan yang suci tidak
menghalalkan cara-cara yang rusak dan maksiat dalam Islam. Apabila
tujuan mulia maka saranapun harus mulia karena kaedah dalam Islam:
الْوَسَائِلُ لَهَا حُكْمُ الْمَقَاصِدِ :
“Washilah (sarana) itu memiliki hukum seperti hukum maksud (tujuan)
Tanyakan kepada ukhti ini, apa langkah-langkah
yang ia tempuh agar mendapatkan hidayah dari Allah ini?!
Kita mengetahui bahwa Allah I menjadikan segala sesuatu itu ada
sebabnya. Oleh karena itu orang yang sakit minum obat supaya sembuh,
seorang musafir naik kereta atau kendaraan supaya sampai ketempat tujuan
dst. Apakah ukhti ini benar-benar jujur telah mengikuti jalan hidayah
dan mengerahkan kemampuannya untuk sebab-sebab yang dapat mengantarkan
kepada hidayah? Seperti berdo`a kepada Allah secara ikhlash sebagaimana
firman Allah swt:
إاِهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيْمَ
“Tujukilah kami kepada jalan lurus.” (Al-Fatihah: 6)
Seperti berteman dengan wanita-wantia shalihah, kerena mereka
adalah sebaik-baik penolong untuk mendapatkan hidayah dan
mempertahankannya, sehingga ia betul-betul komitmen dengan
perintah-perintah Allah, dan memakai hijab yang diperintahkan oleh Allah
kepada wanita-wanita beriman.
Ketahuilah ada satu malaikat yang berdiri didepan pintumu sedang
menunggu perintah Allah. Dia akan bertindak cepat dan tepat kapan saja
dari detik-detik kehidupanmu jika ketentuan Allah telah tiba.
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً
وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.”
(al-A`raf: 34)
Kemudian tidak pandang bulu, besar ataupun kecil. Bisa saja ajal
menjemputmu ketika kamu masih bermaksiat kepada Allah dengan maksiat
besar seperti ini; kamu melawan Allah dengan sufur dan tabarrujmu.
Kepada ukhti ini kita katakan: “Untuk mendapatkan ridha Allah dan
untuk mendapatkan surga-Nya, semua yang mahalpun terasa tidak ada
harganya; harta dan jiwa tidak ada nilainya. Dan ingat Allah pasti
menolong hamba-hamba-Nya yang taat. Barangsiapa yang bertakwa pasti
Allah berikan jalan keluar dan kemudahan.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya
(dengan bersyukur).” (al-Dhuha: 11)
Bagaimana saya harus menyembunyikan nikmat kecantikan yang telah
Allah berikan kepada saya seperti rambut yang lembut, paras yang cantik
dan kulit yang indah?!
Kita katakan: Ukhti ini bersedia mengikuti firman Allah dan
komitmen dengan perintah Allah, tetapai sayang selama itu sesuai dengan
hawa nafsunya dan menurut pemahaman yang semaunya. Dan meninggalkan
perintah-perintah dari sumber yang sama ketika tidak bernafsu kepadanya.
Jika tidak mengapa tidak mematuhi perintah Allah swt:
وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya.” (An-Nur: 31)
يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيْبِهِنَّ
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (keseluruh tubuh
mereka).” (al-Ahzab: 59)
Sesungguhnya nikmat Allah yang terbesar adalah nikmat iman dan
hidayah. Lalu mengapa engkau tidak menampakkan dan memperbincangkan
nikmat Allah yang terbesar ini yang diantaranya adalah hijab syar`i.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Allah, janganlah Engkau simpangkan hati kami ini setelah Engkau
berikan hidayah kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami dari sisi-Mu
sebuah rahmat, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.”
Sumber: http://qiblati.com
Diposting oleh Abu Fahd Negara Tauhid
HATI-HATI DENGAN JILBAB INI! -FULL PICS- (KHUSUS WANITA!!)
Inilah yang kami sedihkan pada kaum wanita saat ini. Zaman sudah semakin rusak. Perzinaan di mana-mana. Pornografi yang sudah semakin marak. Bahkan hal-hal porno semacam ini bukan hanya digandrungi oleh orang dewasa, namun juga anak-anak. Bahkan terakhir ini yang sudah membuat kami semakin geram, tidak sadar-sadarnya wanita dalam berpakaian. Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini. Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah. Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’ An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun. Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya. Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah. Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240) Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut. Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126) Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275) Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna. Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang. Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang. Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031) Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup. Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini??? Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakai pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini? Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?! Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Berikut adalah contoh jilbab-jilbab yang keliru!
Langganan:
Postingan (Atom)